Boyong 4 Penghargaan, Pemkab Ngawi Dorong Investor Jalin Kemitraan dengan UMKM

Kepala Diskominfo Ngawi Prasetyo Harri Adi bersama peserta perwakilan lomba yang mendapatkan penghargaan nasional di JCC Jakarta, Jumat (5/7/2019). (Foto: Diskominfo Ngawi)

Jakarta – Kabupaten Ngawi berhasil membawa pulang empat penghargaan dalam ajang Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2019 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Jumat (5/7/2019). Penghargaan tersebut antara lain Juara II Spesial Desain Stand, Juara II Stand Inspiratif, Video Favorit Pilihan Penonton, dan Putri Otonomi Persahabatan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Prasetyo Harri Adi yang mewakili Bupati Ngawi mengatakan, melalui ajang dan penghargaan yang diperoleh ini, diharapkan bisa mendorong investor untuk menanamkan modalnya guna mendukung pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Ngawi. “Dengan demikian bisa membantu menyukseskan program pemerintah daerah dalam pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Prasetyo juga berharap, dengan pencapaian penghargaan ini, dapat memberikan motivasi bagi pihak terkait agar semakin kompak dalam berbagai perhelatan event lainnya yang akan datang. Ia berpesan supaya kerja sama yang sudah terbangun dijaga dengan baik, sehingga mampu menjadikan Kabupaten Ngawi semakin dikenal di kancah nasional hingga internasional.

“Keempat penghargaan ini luar biasa. Tapi semua ini bisa diraih karena adanya masukan serta andil yang diberikan Bupati Ngawi, di samping itu juga dukungan penuh seluruh masyarakat di Kabupaten Ngawi,” imbuh Kadis, seperti dilansir dari situs berita dan informasi Pemkab Ngawi.

Kemitraan Investor dan UMKM

Posisi UMKM dipandang sangat vital dalam memperkokoh perekonomian nasional, dilihat dari kontribusi penyerapan tenaga kerja maupun sumbangan peningkatan PDB dan harapan bertumbuhnya ekonomi suatu daerah. Diskusi soal UMKM juga tidak luput dari perhatian banyak pihak dan departemen, baik departemen koperasi dan UMKM sendiri maupun departemen-departemen terkait seperti perindustrian, perdagangan, dan penanaman modal.

Namun, Christina Whidya Utami melihat tidak semua UMKM daerah memosisikan kehadiran investor penanam modal lokal maupun asing sebagai mitra bisnis yang bisa diharapkan berkontribusi terhadap keberlanjutan usaha mereka. Selama perjalanannya menjadi akademisi dan praktisi di bidang bisnis, Dekan Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra Surabaya ini menjumpai banyak UMKM meragukan kehadiran investor untuk menjadi mitra yang ikut mengembangkan. Lalu muncul pertanyaan, ke mana arah kerja sama kemitraan yang saling menumbuhkan?

Memotret relasi UMKM dengan investor, menurut Christina, harus berangkat dari peran pemerintah menjembatani relasi tersebut. Kebijakan yang tertuang dalam BAB VIII pasal 25 UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM mengintikan bahwa pemerintah harus memfasilitasi, mendukung, dan menstimulus usaha UMKM dalam proses alih keterampilan baik di bidang produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan pengembangan teknologi.

Selama ini, upaya pengoptimalan dalam pengembangan kerja sama investasi bagi UMKM yang diprioritaskan hanyalah pada sektor usaha UMKM yang potensial, yakni yang memiliki ekspor untuk dikembangkan kerja sama investasinya, khususnya di bidang industri dan manufaktur. Lalu bagaimana dengan UKM yang bergerak di bidang jasa, seperti perdagangan, perhotelan, dan restoran yang notabene jumlahnya di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan UKM bidang industri dan manufaktur. Situasi inilah yang menurut Christina menjadi kegalauan UKM dalam merespon kehadiran investor dalam lingkaran pengembangan bisnis mereka.

Pendekatan Intern Firm Linkage

Untuk melihat arah pengembangan kemitraan investor dan UMKM yang ideal dalam situasi seperti ini, Christina menyarankan dengan pendekatan intern firm linkage. Pendekatan ini berorientasi bahwa kemitraan akan bertumbuh dengan adanya orientasi, media, dan benefit yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Keterkaitan tidak hanya menjelaskan saling hubungan antarsektor, sifat, dan kekuatan, tetapi juga proses dan besarnya pengaruh sifat keterkaitan pada pertumbuhan ekonomi wilayah dan peluang kerja, baik antarsektor atau dalam sektor itu sendiri.

Kaitan vertikal (vertical linkage) adalah kaitan yang tercipta akibat kerja sama atau hubungan antar perusahaan besar dan UMKM. Perusahaan besar berperan sebagai penerima hasil usaha UMKM, di mana UMKM pada akhirnya akan terdorong perkembangan kualitas produk, tingkat teknologi, dan tingkat layanannya.

Kaitan konsumsi (consumption linkage) dan kaitan produksi (production linkage) adalah kaitan-kaitan yang terjadi sebagai akibat kenaikan penghasilan salah satu sektor yang kemudian mengakibatkan munculnya atau meningkatnya permintaan produksi sektor lain. Hal ini bisa pula mengakibatkan terjadinya keterkaitan backward dan fordward linkage. Christina member contoh investor masuk dalam industri pariwisata dan membangun fasilitas pariwisata. Lingkungan sekitar akan terdampak melalui peningkatan kebutuhan oleh-oleh, makanan dan minuman, homestay, transportasi lokal, dan sebagainya. Berikutnya, sektor penyuplai terkait bisnis tersebut juga akan terdampak peningkatan permintaan, seperti suplai bahan pembuatan oleh-oleh, makanan, tenaga kerja, dan lainnya.

Peran Pemerintah dalam Membangun Kemitraan

Resistensi kehadiran investor oleh UKM kemudian ditelaah oleh Christina melalui dimensi karakteristik UMKM di Indonesia yang dapat digolongkan menjadi empat kelompok. Pertama, UMKM sektor informal, contohnya pedagang kaki lima. Kedua, UMKM mikro. Para UMKM dengan kemampuan sifat pengrajin namun kurang memiliki jiwa kewirausahaan untuk mengembangkan usahanya. Ketiga, usaha kecil dinamis, yaitu kelompok UMKM yang mampu berwirausaha dengan menjalin kerja sama dan ekspor. Keempat, fast moving enterprise, adalah UMKM yang memiliki jiwa kewirausahaan yang cakap dan telah siap bertransformasi menjadi usaha besar.

Keempat karakteristik UMK tersebut menjadi langkah awal dalam memahami kebutuhan dan resistensi UMKM dalam menjalin kemitraan dengan investor. Christina kemudian menggunakan analogi seperti halnya orang tua yang ingin menjodohkan anaknya dengan menantu yang ideal, maka orang tua harus memahami masing-masing kebutuhan dan aktivitas yang bisa memberi kesempatan bagi keduanya menjalankan aktivitas bersama yang saling menumbuhkembangkan. Pemerintah yang berperan sebagai orang tua bijak yang mempertemukan kebutuhan itu.

Add Comment