Pemkab Ngawi Gencarkan Pengembangan Desa Wisata

Perayaan Bakalan Bumi Krapyak di Dusun Ngale, Kecamatan Ngaron, Kabupaten Ngawi. (Foto: Pemkab Ngawi)

Margomulyo – Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Ngawi tengah gencar melakukan pengembangan potensi wisata desa. Melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora), Pemkab mendorong pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan desa wisata.

Kepala Bidang Pariwisata Disparpora Totok Sugiarto menyebutkan banyak sektor yang dapat dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata, antara lain alam, budaya, maupun lainnya. Menurutnya, perlu adanya dinergi antara pemerintah desa, masyarakat, maupun pihak lain dalam pengembangan potennsi desa wisata.

“Inisiasinya dari desa, mulai dari kepala desa, pokdarwis, dan BPD harus memiliki kemauan yang sama untuk mengembangkan potensi wisata yang ada. Tidak menutup kemungkinan juga dikerjasamakan dengan pihak ketiga, misalnya investor,” terang Totok.

Berdasarkan keterangannya, dari 217 desa kelurahan di seluruh Kabupaten Ngawi, baru ada sekitar 14 desa yang mengembangkan potensi wisata desa. Ia berharap desa-desa lain juga dapat mengembangkan potensi di masing-masing desa. Pihaknya siap membantu dalam pengembangan sumber daya manusia maupun wisata desa.

Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal

Komariah, Saepudin, dan Yusup (2018) dalam penelitiannya memandang bahwa dalam mendorong dan mengembangkan potensi desa wisata harus disesuaikan dengan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat. Dalam pengembangan desa wisata, pelestarian alam merupakan hal pokok yang harus dijaga. Konsep ini menjadi sebuah pegangan bersama dan aturan yang harus dijalankan dalam semua sendi kehidupan masyarkat. Dengan kata lain, menjaga keseimbangan alam merupakan kearifan lokal karena sudah menjadi keyakinan yang dipegang oleh masyarakat.

Menurut mereka, dalam pengembangan destinasi wisata kerap terjadi penggerusan terhadap keaslian dan keunikan dari budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Hal ini terjadi karena struktur sosial masyarakat mengalammi perubahan atau penambahan produk sesuai dengan pengembangan usaha wisata. Tidak sedikit produk baru tersebut dapat merusak nilai-nilai luhur masyarakat yang seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan. Oleh sebab itu, diperlukan pemikiran mengenai langkah-langkah masyarakat dan pemerintah supaya pengembangan destinasi wisata tidak mengubah karakteristik objek wisata maupun kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya.

Keindahan alam, kehidupan sosial, kekayaan spiritual merupakan daya tarik yang bisa mengundang rasa ingin tahu masyarakat luar. Untuk itu, keeksotisan ini menurut ketiga peneliti harus ditampilkan dalam keaslian, sehingga menjadi daya tarik utama dalam destinasi wisata.

Pelibatan peran serta masyarakat melalui kegiatan pariwisata yang berbasis masyarakat dipandang perlu utnuk menjaga kelestarian nilai kearifan lokal di kawasan wisata. Hal ini menurut mereka bisa dilakukan dengan cara membangun kelompok masyarakat yang aktif dan peduli terhadap kegiatan pelestarian kawasan wisata. Keterlibatan masyarakat dalam kelompok ini merupakan wujud konkrit kepedulian terhadap kawasan wisata sekaligus potensi sumber daya alam lainnya.

Melalui sebuah komunitas atau kelompok inilah pemeliharaan kelestarian alam bisa diwujudkan. Wujud kearifan lokal ada di dalam kehidupan masyarakat yang mengenal dengan baik lingkungannya, masyarakat hidup berdampingan dengan alam secara harmonis, memahami cara memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana.

Add Comment