Destinasi Wisata Agro Techno Park Jadi Pusat Inovasi Pertanian Bioteknologi

Destinasi wisata Agro Techno Park (Foto: Wisata Ngawi)

Ngrambe – Agro Techno Park yang terletak di Desa Wakah, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi tidak hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga dijadikan sebagai pusat pertanian bioteknologi. Kawasan ini merupakan pusat untuk menerapkan teknologi baik pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil panen.

Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Ngawi Sunito menjelaskan, Agro Techno Park merupakan sarana transfer teknologi bagi masyarakat. “Peningkatan sumber daya manusia baik dari masyarakat, kelompok tani, maupun para pelaku UMKM sudah waktunya diberi sarana dan prasarana guna menunjang produktivitas yang berdaya saing,” kata Sunito.

Katerangkannya, pembangunan kawasan Agro Techno Park berpatokan pada keterpaduan, pendekatan bisnis yang berkesinambungan, serta sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). “Maka dengan adanya kawasan ini merupakan wujud sebuah kawasan pertanian terpadu,” sambungnya.

Untuk penerapan pertanian terpadu, imbuh Sunito, diharapkan mampu mendongkrak kualitas baik secara ekonomi maupun kemampuan masyarakat, sehingga produktivitas nilai tambah dari berbagai sektor semakin meningkat.

“Kawasan ini diharapkan mampu menjadi pusat percontohan penerapan teknologi dan inovasi pertanian bioteknologi,” terang Sunito.

Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu, seperti yang disebutkan Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Ngawi di atas, menurut Arimbawa (2016), merupakan sistem pertanian yang mengintegrasikan kegiatan subsektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya, kemandirian, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Bagas, dkk (2004) menyebutkan ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan terhadap keterpaduan sistem pertanian terpadu. Pertama, agroekosistem yang beranekaragaman tinggi yang member jaminan yang lebih tinggi bagi petani secara berkelanjutan.

Kedua, diperlukan keanekaragaman fungsional yang dapat dicapai dengan mengombinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki sifat saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergik dan positif, dan bukan hanya kestabilan yang dapat diperbaiki, namun juga produktivitas sistem pertanian dengan input yang lebih rendah.

Ketiga, menentukan kombinasi tanaman, hewan, dan input yang mengarah pada produktivitas yang tinggi, keamanan produksi, serta konservasi sumber daya yang relatif sesuai dengan keterbatasan lahan, tenaga kerja, dan modal.

Adapun beberapa manfaat yang dapat dilihat dari pengembangan sistem pertanian terpadu, antara lain: mampu menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya sehingga aliran nutrisi dan energi berimbang; keseimbangan energy yang dapat menghasilkan produktivitas tinggi dan keberlanjutan produksi terjaga; biodiversitas meningkat, apalagi dengan menggunakan sumber daya lokal; peningkatan fiksasi nitrogen, resistensi tanaman terhadap jasad pengganggu lebih tinggi, dan hasil samping bahan bakar biogas untuk rumah tangga.

Menurut Athirah (2009) pertanian terpadu secara deduktif akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi produksi berupa peningkatan hasil produksi dan penurunan biaya produksi. Output dari sistem pertanian terpadu dapat berupa hasil harian seperti susu, telur, dan biogas; hasil mingguan seperti kompos, bio urine, dan pakan ternak; hasil bulanan seperti padi, daging; dan hasil tahunan seperti anak sapi, anak kambing, dan lain sebagainya.