Naldho Febrianto, Pemuda Desa dengan Omzet Rp 40 Juta per Bulan dari Bisnis Kayu Jati

Naldho Febrianto (kanan) bersama pengunjung stand Jatiaji Furniture. (Foto: jatiaji_furniture)

Kedunggalar – Hidup sebagai orang desa bukan berarti tak bisa membuat karya. Banyak karya dan perubahan besar di negeri ini justru berawal dari desa. Naldho Febrianto tak menjadikan identitasnya sebagai pemuda desa, sebagai halangan dalam menggeluti dunia bisnis. Bahkan usaha kerajinan kayu yang dirintisnya sejak 2015, kini telah merambah pasar hingga Eropa.

Rumahnya yang berada di Dusun Ngubalan, Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar disulap sedemikian rupa menjadi tempat pajangan bagi hasil kreasi barang-barang kerajinan kayu bernilai tinggi. Menurutnya, dalam menjalankan kerajinan kayu saat ini, lokasi usaha bukan hal yang utama, asal bisa bekerja keras menjaga kualitas produk. Pemasaran bisa dilakukan seefisien mungkin secara daring, terutama lewat internet.

Kemampuannya membuat kerajinan kayu sudah dimulai sejak Naldho bekerja di usaha furniture milik orang lain. Di rumah milik orang tuanya pun sebenarnya telah ada usaha kerajinan kayu milik sang ayah sejak 2006. “Awal mulanya masih sendiri sama bapak mengerjakan pesanan. Sekarang sudah dibantu sepuluh orang dari kerabat dan tetangga sekitar,” terang mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Merdeka adiun itu.

Meski banyak usaha kerajinan kayu di desanya, Naldho memilih fokus pada kerajinan kayu dari akar kayu jati. Di Kabupaten Ngawi sendiri, hutan jati cukup luas sehingga bahan bakunya relatif cukup melimpah. Dari kayu jati maupun limbahnya seperti ranting, bonggol, dan akar, ia mampu membuat perabotan dan pernak-pernik bernilai ekonomi tinggi. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, menyesuaikan dengan bentuk, ukuran, dan kerumitan yang dibuat.

“Sejuh ini cukup efektif memasarkan lewat internet dan media sosial. Setahun sekali ada buyer dari Belgia, kebetulan memang luar negeri pasarnya baru satu negara. Kemudian kota-kota besar di Jawa dan luar Jawa. Paling banyak Cirebon,” kata pemilik usaha Jatiaji Furniture ini.

Dikatakan Naldho, usaha kerajinan kayu dituntut perlu kreatif, mengingat persaingannya lumayan tinggi dengan keluaran barang yang relatif seragam. Kini, dengan kegigihannya menjalankan bisnis kerajinan ini, Naldho mampu meraup omzet hingga Rp 40 juta per bulan.

Upaya Memberdayakan UMKM

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah terbukti memberikan lapangan kerja dan memberikan kesempatan bagi UKM untuk berkembang di masyarakat. Keberadaan UMKM tidak dapat diragukan karena terbukti mampu bertahan dan menjadi penggerak ekonomi, terutama setelah krisis ekonomi. Keberadaan UMKM harus diperhatikan pemerintah untuk membangun struktur ekonomi, mengingat belum kokohnya fundamental perekonomian Indonesia.

Kemampuan UMKM dalam menghadapi terpaan arus persaingan global memang perlu dipikirkan lebih lanjut agar tetap mampu bertahan demi kestabilan perekonomian Indonesia. Selain itu, faktor sumber daya manusia di dalamnya juga memiliki andil tersendiri.

Sudaryanto, dkk (2018) dalam penelitiannya berjudul “Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean” menggarisbawahi bahwa strategi pengembangan UMKM untuk tetap bertahan dapat dilakukan dengan peningkatan daya saing dan pengembangan sumber daya manusianua agar memiliki nilai dan mampu bertahan menghadapi pasar ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), di antaranya melalui pernyaluran perkreditan (KUR), penyediaan akses informasi pemasaran, pelatihan lembaga keuangan mikro melalui capacity building, dan pengembangan information technology (IT).

Demikian juga upaya-upaya lainnya dapat dilakukan melalui kampanye cinta produk dalam negeri serta memberikan suntikan pendanaan pada lembaga keuangan mikro. Keuangan mikro telah menjadi suatu wacana global yang diyakini oleh banyak pihak menjadi metode untuk mengatasi kemiskinan. Berbagai lembaga multilateral dan bilateral mengembangkan keuangan mikro dalam berbagai program kerja sama. Pemerintah di beberapa negara berkembang juga telah mencoba mengembangkan keuangan mikro pada berbagai program pembangunan. Lembaga swadaya masyarakat juga tidak ketinggalan untuk turut berperan dalam aplikasi keuangan mikro (Prabowo & Wardoyo, 2003).