Produktivitas Padi di Ngawi Alami Peningkatan, Capai 10 Ton Per Hektare

Produktivitas padi petani di Ngawi saat ini rata-rata sebanyak 8 ton per hektare. Bahkan pada musim tanam tahun ini di sejumlah kecamatan ada yang produktivitasnya mencapai 10 ton per hektare. (Foto: Kementan)

Ngawi – Produktivitas padi di Kabupaten Ngawi menunjukkan peningkatan. Semua berkat kolaborasi dan kerja sama antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi dalam mengimplementasikan program peningkatan produksi padi. Termasuk program luas tambah tanam (LTT) maupun mekanisme pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi Marsudi menjelaskan, produktivitas padi petani di Ngawi saat ini rata-rata sebanyak 8 ton per hektare. Bahkan pada musim tanam tahun ini di sejumlah kecamatan ada yang produktivitasnya mencapai 10 ton per hektare. Menurutnya, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu sentra padi yang hingga kini menjadi tumpuan produksi padi di Jawa Timur.

Untuk itu, pihaknya hingga saat ini terus melakukan percepatan tanam dengan alat dan alsintan sehingga petani Ngawi bisa tanam dan panen tiga kali per tahun. Selain penggunaan alsintan, bantuan pemerintah seperti pupuk dan benis juga menjadi faktor pendorong meningkatnya produktivitas padi petani. “Kalau dulunya dalam ubinan hanya 6-7 ton per hektare, saat ini rata-rata sudah mencapai 8 ton per hektare,” terang Marsudi.

Kadi melanjutkan, untuk mengmbangkan mekanisme pertanian di Ngawi, pihaknya bekerja sama dengan kelompok tani (poktan) dan kabungan kelompok tani (gapoktan) untuk membentuk unit pelayanan jasa alsintan (UPJA). Bantuan alsintan dari pemerintah akan dikelola langsung oleh UPJA. “Melalui UPJA anggota poktan maupun gapoktan bisa menyewa alsintan untuk olah lahan hingga panen,” imbuh Marsudi.

Dikatakan Marsudi, sudah banyak alsintan yang diberikan ke petani. Bahkan jumlah traktor roda (TR2) yang swadaya di Ngawi ini jumlahnya sekitar lima kali lipat dari jumlah bantuan TR2 yang diberikan ke petani. Bantuan alsintan tersebut berdampak signifikan terhadap olah lahan petani. Artinya, olah lahan petani, tanam, dan panen jadi lebih cepat.

Menurut Kadis, alsintan yang dikelola sejumlah gapoktan melalui UPJA di Ngawi tak hanya berperan dalam mewujudkan modernisasi pertanian, tapi juga sebagai sumber usaha baru bagi petani. “Tak sedikit petani yang bergabung mendirikan UPJA dan menjalankan usaha sewa alsintan mendapatkan untung dari usaha tersebut,” papar Marsudi.

Strategi Luas Tambah Tanam (LTT)

Salah satu peningkatan produktivitas padi di Ngawi adalah program luas tambah tanam (LTT). Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy mendorong realisasi LTT padi di Ngawi sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan bahkan harus meningkat dari tahun sebelumnya.

Sarwo Edhy menjelaskan, untuk strategi LTT bisa berjalan mulus perlu memberikan pengertian kepada petani yang sudah panen untuk segera menyiapkan penanaman kembali. Kemudian soal kebutuhan segera disampaikan. Pihaknya meminta untuk pemanfaatan dengan maksimal terhadap alsintan yang telah disalurkan.

“Bagaimana yang selama ini sekali tanam bisa dua kali atau yang dua kali tanam bisa tiga kali tanam padi dalam setahun. Hal itu agar produksi dan produktivitas di Ngawi semakin baik,” terang Edhy.

Dirinya mengapresiasi beberapa kabupaten atau daerah yang saat ini sudah melewati zona merah seperti di Kabupaten Ngawi. Menurutnya, hal tersebut perlu dicontoh daerah lainnya. “Saya juga meminta baik di tingkat provinsi dan kabupaten, setiap di atas tanggal 20 untuk melakukan koordinasi terkait Upsus Pajalele ini. Semua harus berperan untuk mewujudkan target pertanaman padi ini,” tegasnya.

Add Comment