Bedah Rumah Ramah Gempa Berbahan UPVC Hadir di Ngawi

Foto: Kemenristekdikti

Paron – Bedah Rumah Cepat Ramah Gempa diperkenalkan oleh KENDS UPVC di Desa Jambangan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jumat (27/9/2019). Rumah berbahan Unplasticized Poly Vinvyl Chloride (UPVC) yang pertama ada di Ngawi ini dihadiahkan sebagai program bedah rumah untuk Muh. Asrof, warga kurang beruntung di desa setempat.

Turut hadir dalam agenda bedah rumah tersebut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Dirinya menjelaskan, rumah berbahan UPVC ini merupakan hasil kerja sama Direktorat Inovasi dan Pengembangan Universitas Diponegoro dan PT Terryham Proplas Indonesia (TPI).

Rumah mitigasi bencana gempa ini, kata Nasir, setara tipe 36, yang proses pembangunannya hanya membutuhkan waktu kurang dari enam jam. Selain itu, rumah tahan gempa ini juga kedap suara, tidak panas, dan sangat murah biaya pembangunannya.

“Rumah ini biaya pembangunannya di bawah Rp 100 juta. Meski berbahan semacam plastik, tapi rumah ini kedap suara, adem, dan tahan gempa. Dan ini masuk hunian tetap tahun sampai minimal sepuluh tahun lebih,” terang Moh Nasir.

Selain menghemat anggaran, lanjutnya, pembangunan rumah berbahan UPVC ini juga dapat menghemat waktu dan tenaga. “Jadi kalau di daerah korban bencana kita bangun rumah semacam ini tentunya tidak perlu lagi membangun hunian sementara. Jadi banyak yang dihemat,” tambah Nasir.

Akan Dibangun di Wilayah Rawan Bencana

Menristekdikti mengatakan, melalui kegiatan bedah rumah ini pihaknya bersama KENDS UPVC ingin mensosialisasikan rumah layak huni berbahan UPVC yang tahan gempa, ramah lingkungan, awet, dan memiliki harga terjangkau. “Menyikapi semakin langkanya kayu untuk bahan bangunan sehingga harganya menjadi mahal, maka rumah huni tersebut menggunakan bahan UPVC yang tahan terhadap cuaca maupun gempa,” terang dia.

Tambahnya, sudah waktunya Indonesia mempunyai teknologi untuk membuat rumah huni yang tahan gempa, sebagaimana sudah dilakukan oleh negara Jepang, yang juga menjadi langganan gempa. “Dengan beberapa kelebihan, di antaranya lebih ringan, proses pembuatan rumah menjadi lebih cepat, biaya pembuatan dan pemeliharaan yang lebih murah serta tahan lama,” katanya lagi.

Dirinci Nasir, pembangunan rumah cepat tipe 36 kurang dari enam jam itu hanya menyangkut dinding dan sekat kamar mandi, kamar tidur, dan ruang tamu. Jika semuanya dihitung, total penyelesaian pembangunan rumah berbahan UPVC itu membutuhkan waktu dua sampai dua setengah hari. “Lama waktu itu terhitung pembuatan lantai keramik, kamar mandi termasuk septitank WC, dapur dan atap berikut plafon,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nasir mengatakan, rumah berbahan UPVC berukuran 6 x 7,5 meter itu nantinya akan dibangun di wilayah rawan bencana, seperti Ambon dan wilayah rawan bencana lainnya.

Add Comment