BID Kluster II: Kembangkan Produk Unggulan, Wujudkan Program Inovasi Desa

Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar secara simbolis membuka penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID) Kluster II di Graha Semar Kecamatan Ngrambe, Rabu (11/9/2019) lalu. (Foto: Diskominfo Ngawi)

Ngrambe – Pemerintah Kabupaten Ngawi berkomitmen dalam menjalankan Program Inovasi Desa (PID) untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa. Komitmen ini diwujudkan dengan adanya penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID) Kluster II di Graha Semar Kecamatan Ngrambe, Rabu (11/9/2019) lalu.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (DPMPD) Kabul Tunggul Winarno melalui keterangan tertulis di laman resmi Pemkab Ngawi menjelaskan, BID merupakan wadah penyebaran dan pertukaran ide atau inovasi masyarakat yang berkembang di desa. Inovasi yang ada bisa diterapkan maupun direplikasi oleh desa-desa yang hadir pada gelaran tersebut. “BID Kluster II ini diikuti oleh sepuluh Tim Pelaksana Inovasi Desa dan terbagi dalam 109 desa,” terangnya.

Dijelaskannya, gelaran tersebut tidak hanya menyajikan pameran produk unggulan tetapi juga ide kreatif dalam pembangunan desa serta memberi alternatif pembangunan di desa terkait penggunaan dana desa yang lebih efektif dan efisien. “Sehingga kesejahteraan serta perekonomian masyarakat lebih bisa meningkat dan semakin maju,” imbuh Kabul.

Wakil Bupati Ony Anwar menyampaikan bahwa BID tahun ini ditekankan khusus bagi kepala desa terpilih untuk lebih bisa berkomitmen dalam berinovasi pembangunan daerah. Sehingga, diharapkan bisa optimal dan efisien dalam penggunaan anggaran dana desa. “Di samping itu, masyarakat harus turut berpartisipasi dalam setiap pola kerja pembangunan yang dilaksanakan di pemerintahan desa,” pesan Wabup.

Perlu Kolaborasi untuk Kembangkan Produk Unggulan

Potensi ekonomi dan inovasi yang ada di daerah memang merupakan hal penting untuk dikembangkan. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengamini hal tersebut, dan menurutnya, strategi pembangunan di daerah harus difokuskan pada pengembangan potensi bisnis yang berbasis pada produk unggulan daerah (PUD). Pengembangan potensi daerah dituntut untuk berinovasi yang berasal dari riset yang dapat dikomersialkan. Berbagai PUD yang bisa dikembangkan antara lain komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, hortikultura, hingga industri kreatif.

Menurut Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu, inovasi pengembangan PUD mampu memacu daya saing nasional. Sebab, tingkat daya saing nasional dibentuk dan didukung oleh kemampuan daya saing daerah yang memiliki karakteristik aktivitas ekonomi, infrastruktur, sumber daya alam, kearifan lokal, serta kualitas sumber daya manusia yang beragam. Namun demikian, pengembangan ekonomi daerah yang berbasis iptek dan inovasi harus sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Dalam pengembangan riset di daerah, industri harus diajak bicara. Industri butuh apa, potensi alam daerah apa,” terang Nasir, dilansir dari laman Kemenristekdikti. Ia berharap, pertumbuhan riset dan inovasi di daerah baik secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan taraf kesejahteraan dan tingkat perekonomian masyarakat di daerah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe meminta agar daerah mengembangkan PUD dengan model klaster inovasi, yakni dengan mendorong kolaborasi dan sinergi peran serta fungsi para inovator. Pendekatan model klaster inovasi dilakukan melalui peningkatan peran perguruan tinggi. “Perguruan tinggi dapat menjadi pusat unggulan yang menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri di daerah domisili. Perguruan Tinggi harus menjadi agent of region economic development,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus berperan merangsang pertumbuhan investasi serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. “Komunitas sebagai pemakai barang dan jasa harus menyadari pentingnya memakai produk dalam negeri,” kata dia.

Add Comment