Jadi Pembicara Kuliah di Akper Pemkab Ngawi, Ony Anwar Tekankan Penanganan Stunting

Wakil Bupati Ngawi bersama jajaran pimpinan dan peserta didik Akper Pemkab Ngawi. (Diskominfo Ngawi)

Karangtengah, Ngawi – Wakil Bupati (Wabup) Ngawi Ony Anwar menjadi pengisi kuliah perdana untuk sejumlah 85 mahasiswa baru di Akademi Keperawatan (Akper) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Senin (2/9/2019). Dalam kesempatan tersebut, Wabup menyampaikan materi yang erat kaitannya dengan program yang saat ini menjadi perhatian Pemkab, utamanya masalah stunting.

Saat ini, ujarnya, angka permasalahan stunting di Kabupaten Ngawi sangat tinggi, yaitu di atas 25 persen, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Untuk itu, SDM dari Akper Pemkab Ngawi sangat diharapkan perannya dalam memberikan solusi permasalahan ini. “Pentingnya profesi perawat ke depan, bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan bangsa, khususnya di Kabupaten Ngawi,” kata Ony.

Wabup juga menjelaskan, bidang kesehatan menjadi salah satu pelayanan dasar Pemkab Ngawi. Selain itu, keberadaan Akper diharapkan nantinya dapat menjadi pionir dalam mencetak sumber daya yang mampu memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi.

“Semakin hari Akper Ngawi bisa berevolusi menjadi akademisi serta memiliki akreditas bagus dengan pengajar profesional. Sehingga ke depan mampu menghadirkan perawat-perawat yang mamiliki kapasitas kecakapan akademik dan memiliki budi pekerti luhur,” urai Wabup.

Pembantu Direktur Akademik I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Rini Komalawati mengatakan pihaknya siap dalam mendukung semua program pemerintah di bidang kesehatan. “Kami juga akan mendukung program pemerintah baik kaitannya yang sudah dicanangkan seperti penanganan gizi buruk ataupun lainnya,” terang Rini.

Tantangan Pemerintah

Penanganan Stunting menjadi salah satu fokus pemerintah Kabupaten Ngawi di tahun ini. Hal ini dikarenakan angka stunting di daerah tersebut cukup tinggi. Guru Besar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Purwiyatno Haryadi mangatakan, stunting masih menjadi tantangan pemerintah di bidang kesehatan hingga saat ini.

“Penyebab bayi mengalami stunting sangat kompleks mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, pengasuhan anak yang kurang tepat, faktor kondisi eumah, faktor infeksi, keamanan pangan dan air yang tak terjaga serta mutu dan gizi pangan yang buruk,” urai Prof. Purwiyatno.

Menurutnya, sektor yang paling harus diintervensi pemerintah adalah kaitannya dengan keamanan pangan. Dari sisi kesehatan, bagaimana bisa mengatasi stunting melalui bidang keamanan pangan seperti kurangnya infrastruktur air bersih. “Saya lihat perlu ada investasi keamanan pangan, seperti pedagang bakso atau jajanan anak-anak,” tambahnya.

Ia melihat, produksi pangan yang tidak sesuai kaidah Cara Produksi Pangan yang Baik (CPBB) menjadi tantangan keamanan pangan di Indonesia. Masih banyak pedagang makanan yang abai dengan kaidah ini dan melakukan penggunaan bahan tambahan pangan yang berlebihan. “Pemerintah harus memastikan perlindungan kesehatan publik dengan pembenahan standar keamanan pangan nasional,” lanjut Prof. Purwiyatno.

Dikatakannya, ketika aspek keamanan pangan diperhatikan, maka risiko anak jatuh sakit dan mengalami gizi buruk bisa dicegah. Selain intervensi di bidang keamanan pangan, ia juga melihat pentingnya dukungan multisektor untuk merevitalisasi posyandu. Seperti diketahui, posyandu merupakan pusat kegiatan penyuluhan di masyarakat yang turut memengaruhi cakupan perbaikan gizi di suatu daerah.

Sementara itu, spesialis anak konsultan dr. Aman Bhakti Pulungan SpA(K) mengatakan, intervensi perlu diberikan kepada anak stunting. Aman mengatakan, ada tiga kategori pendek yang terdapat dalam data Riskesdas. Kategori yang memerlukan intervensi stunting adalah anak yang pendek dan kurus. “Intervensi bisa berupa pemberian makan, makanan tambahan. Itu yang paling penting, dan zat bergizi,” sambung Aman.

Aman melanjutkan, intervensi tak cukup hanya dilakukan dengan pemenuhan kebutuhan gizi. Mengingat stunting merupakan masalah kesehatan yang dilatarbelakangi oleh beragam faktor, perbaikan di sektor-sektor lain juga perlu dilakukan. “Setelah pemenuhan gizi, hal seperti lingkungan, sanitasi, dan lain-lain harus diperbaiki juga sama-sama. Imunisasi harus,” tekan Aman.

Seperti halnya intervensi dalam menghadapi stunting, upaya pencegahan stunting juga melibatkan banyak faktor. Pencegahan stunting tak bisa hanya dilakukan dengan memberi makanan saja kepada anak-anak maupun ibu hamil. Kondisi perumahan, program keluarga berencana hingga sanitasi lingkungan juga harus diperhatikan dengan baik demi mengurangi kejadian stunting. “Makanya, stunting itu identik sebetulnya dengan kesejahteraan di suatu wilayah,” kata Aman.