Populerkan Teh Lokal Ngawi Lewat Ngawi Tea Festival 2019

Bupati Ngawi Budi Sulistyono saat membuka acara Ngawi Tea Festival 2019. (Foto: Diskominfo Ngawi)

Ngawi – Pemerintah Kabupaten Ngawi berupaya meningkatkan popularitas dan inovasi olahan teh asli Ngawi dengan menyelenggarakan Ngawi Tea Festival 2019 di Alun-alun Merdeka, Jumat-Sabtu (13-14/9/2019). Melalui acara ini, diharapkan mengembangkan sektor ekonomi kreatif bagi para pelaku usaha untuk menggunakan teh asli Ngawi agar semakin dikenal.

“Kalau sudah dikenal tentu dampaknya pada kesejahteraan masyarakat terutama pelaku usaha teh di sini. Dan diharapkan dapat menciptakan multiplier effect sehingga pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat tercapai dengan cepat,” jelas Bupati Budi Sulistyono melalui keterangan tertulis Pemkab Ngawi.

Selain itu, imbuh Bupati, acara ini juga bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap masyarakat dalam mengkonsumsi teh lokal Ngawi yang berasal dari perkebunan teh Jamus. “Kegiatan ini bisa mengapresiasi penikmat teh Ngawi. Pada gilirannya nanti akan bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas sekaligus peningkatan kesejahteraan petani dan penggiat teh yang ada di Kabupaten Ngawi,” imbuhnya.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara produsen teh terbesar ketujuh dunia setelah Sri Lanka. Hampir setengah dari produksi teh Indonesia diekspor ke luar negeri. Pasar ekspor utamanya adalah Rusia, Inggris, dan Pakistan. “Dan tanaman yang bisa tumbuh di dataran tinggi ini menjadi salah satu tanaman unggulan di sektor pertanian, termasuk Kabupaten Ngawi,” kata Bupati.

Nyahi, Tradisi Menikmati Teh Sore Hari

Salah satu rangkaian acara Ngawi Tea Festival 2019 yaitu workshop yang menghadirkan narasumber ahli konsultan teh, Heru Purwanto dan Trias Kristian, yang merupakan pimpinan perusahaan teh di Ngawi. Workshop tersebut mengulas tentang sejarah, pengolahan, dan manfaat teh.

Saat menyeduh teh menurut Heru, tidak boleh dilakukan berulang kali, tetapi hanya sekali saja. “Teh itu menyehatkan, tapi kalau cara memasaknya salah, maka malah akan menjadi penyakit,” urai Heru saat menyampaikan cara menyajikan teh.

Usai acara dibuka, Bupati bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah serta jajaran pejabat lingkup Pemkab Ngawi melakukan Nyahi atau budaya meminum teh tradisi Betawi yang biasanya dilakukan di pagi maupun sore hari. Teh yang disajikan dalam Nyahi merupakan jenis teh tubruk yang diseduh tanpa disaring. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa tradisi minum teh ini diadaptasi dari budaya Cina.

“Nyahi bisa berarti berkumpul dengan keluarga untuk menikmati teh dengan menggigit gula jawa setelah meneguk teh. Teh tidap dicampu apapun, harus terlihat daunnya dan tidak disaring,” jelas Heru saat ikut menikmati tradisi Nyahi.

Add Comment