Dua Warga Sambiroto, Graduasi Mandiri Program PKH

Warga penerima PKH (tengah) didampingi pendamping PKH (kanan) dan Kepala Desa Sambiroto saat memutuskan mundur dari kepesertaan PKH (Foto: Desa Sambiroto)

SAMBIROTO, Padas — PKH merupakan program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga dan atau seseorang miskin dan rentan miskin yang terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT) program penanganan fakir miskin yang diolah oleh pusat data dan informasi kesejahteraan sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat.

Ada 3 komponen kriteria yang harus dipenuhi sebagai penerima manfaat yaitu kriteria komponen kesehatan, kriteria komponen pendidikan, dan kriteria kesejahteraan sosial. Tujuan digulirkannya program ini adalah untuk meningkatkan taraf hidup Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui akses layanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial, mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan rentan.

Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan PKH. Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis.

Sebagai sebuah program bantuan sosial bersyarat, PKH membuka akses keluarga miskin terutama ibu hamil dan anak untuk memanfaatkan berbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik) yang tersedia di sekitar mereka. Manfaat PKH juga mulai didorong untuk mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia dengan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya sesuai dengan amanat konstitusi dan Nawacita Presiden RI.

Graduasi Mandiri Program PKH

Puryanti adalah seorang ibu rumah tangga. Perempuan berusia 34 tahun ini bertempat tinggal di RT 002, RW 002, Desa Sambiroto, merupakan salah satu penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah. Sang suami bekerja diluar kota sebagai tukang bangunan, hanya pulang sesekali dalam beberapa bulan.

Ibu tiga anak ini menyatakan mundur dari kepesertaan penerima Program Keluarga Harapan, Minggu (08/12/2019). Disaksikan pendamping PKH Ika Eny, Puryanti menandatangani surat pernyataan mundur dari kepesertaan secara suka rela. Menurut pengakuannya dia sudah merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya secara mandiri, itu sebabnya mengapa dia mengambil keputusan ini.

Langkah serupa juga pernah dilambil oleh Jayem (40 tahun), keluarga penerima manfaat PKH yang beralamat di RT 002, RW 003, menyatakan mundur dari kepesertaan tanggal 12 Oktober 2019 dan Pujiyem (37 tahun), perempuan yang beralamat di RT 002, RW 003, Dusun Bolo, pada Sabtu (13/07/2019). Mereka berkeinginan untuk mundur atas kesadaran diri dikarenakan sudah mampu dalam hal pemenuhan kebutuhannya.

Sejauh ini sudah 3 keluarga penerima program PKH di Desa Sambiroto yang telah mengundurkan diri. Tidak menutup kemungkinan akan ada keluarga-keluarga lain yang mengikuti jejak mereka.