Belajar di Media Online, Warga Desa Dero Sukses Budidaya Bawang Merah

Budidaya tanaman bawang merah milik warga Desa Dero (Foto: Desa Dero)

DERO, Bringin — Sutrisno (48), warga Dusun Tegal Duwur, Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, sejak 2 tahun lalu sudah mengembangkan budidaya bawang merah di lahan sawah miliknya seluas 900 m².

Sawah yang dulu biasanya ditanami padi, kini disulap menjadi tanaman bawang, seperti halnya petani di Dusun Tegal Duwur yang sudah lama mengembangkan tanaman bawang merah. Bahkan, hasilnya pun tidak main-main, bisa mencapai 1,2 ton. Hasil ini, jika dirupiahkan sekitar Rp 14,4 juta untuk sekali panen dengan harga jual Rp 12 ribu per kilogramnya.

Saat ditemui di lahan pertanian bawang merahnya pada Selasa (17/12/2019), Sutrisno mengungkapkan kalau dirinya sudah 7 kali panen sejak 2 tahun lalu. Ia melihat potensi pengembangan bawang merah di wilayahnya sangat bagus, apalagi dalam penjualan sudah di datangi pembeli dari luar daerah.

“Jualnya tidak pernah ke pasar, karena kita sudah punya pembeli yang datang langsung bila panen. Alhamdulillah, sudah 7 kali panen dan hasilnya lumayan. Tadinya ini digunakan untuk padi, tapi karena bawang lebih menjanjikan, makanya saya beralih ke pertanian bawang merah,” jelasnya.

Belajar di Media Online

Sutrisno mengaku, ilmu bertani bawang merah, diperolehnya secara otodidak dan sering melihat tentang tata cara penanaman bawang merah di media YouTube atau melalui Google. Dari hasil pengalaman yang pas-pasan, dirinya tetap bertekad ingin mengembangkan tanaman bawang merah ini

“Saya kalau ada apa-apa selalu tanya mbah google. Di google atau YouTube kan banyak panduan tentang penanaman bawah merah,” ungkapnya.

Dalam sekali tanam hingga panen, ia membutuhkan modal sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta untuk lahan seluas 900 m². Nominal tersebut digunakan untuk membeli bibit sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta, dan sisanya digunakan untuk perawatan, mulai dari pupuk hingga obat.

Menurut Sutrisno, jika dibandingkan dengan tanaman padi, menanam bawang merah lebih menjanjikan meskipun modalnya besar. Karena, bawang merah bisa dipanen dua bulan sekali, sehingga perputarannya cukup cepat.

“Berbeda dengan padi. Makanya banyak petani yang ingin seperti beralih seperti saya, tapi mereka terkendala modal yang cukup besar,” ujarnya.

Untuk kendala yang dihadapi dalam budidaya bawang merah ini hanya gangguan ulat saja. Sedangkan, musim kemarau maupun musim hujan tidak menjadi persoalan bagi tanaman tersebut.

Sutrisno menjelaskan, dalam proses penanaman hari pertama hingga 30 hari, perlu dilakukan penyiraman dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore. Sedangkan, hari ke-31 hingga ke-60 disiram hanya pada sore harinya saja.

“Kalau musim kemarau, kebetulan saya ambil airnya dari sumur pompa yang ada diesel nya. Kalau musim hujan harus pintar pintar dalam hal penyiramanya,” imbuhnya.

Melihat hasil bisnis budidaya bawang merah yang sangat menjanjikan, petani di Dusun Tegal Duwur sudah banyak beralih dari tanaman padi ke tanaman bawang merah.

“Sebenarnya bisa saja di Desa Dero dikembangkan ke dusun lainnya, tinggal dites dulu kontur tanahnya apakah cocok atau tidak. Kalau cocok, berarti bagus kan di Dero sudah ada petaninya sendiri. Jadi, ketika harga bawang naik, di sini bisa tetap stabil karena bisa dipasok dari dalam daerah,” pungkasnya