Kunjungan 16 Siswa Sekolah Inklusi ke Perpustakaan Desa Grudo

Kunjungan 16 siswa inklusi ke Perpustakaan Desa Grudo (Foto: Pemdes Grudo)

GRUDO, Ngawi — Perpustakaan Desa Grudo kedatangan tamu istimewa dari anak-anak yang bersekolah di pendidikan inklusi. Kadatangannya kali ini kali ini untuk mengenal beberapa fasilitas perpustakaan dan belajar ilmu melalui media elektronik.

Anak-anak tersebut meliputi siswa-siswi dari Yayasan Beranda Istimewa dan Kahfiza Dusun Ngronggi, Desa Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Mereka sekolah di Desa Grudo namun berdomisili dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Ngawi

Pemerintah Desa Grudo melalui Kepala Desa, Triono, menekankan pentingnya pendidikan untuk semua masyarakat. Ia Juga menekankan bila pendidikan di Desa Grudo tidak mengenal diskriminasi, dan itu berlaku untuk siapapun tanpa terkecuali.

“Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia dan hak setiap orang untuk mendapat perlakuan sama di Desa Grudo. Termasuk adik-adik kita kali ini. Dalam ketidak beruntungan mereka, harus kita perhatikan, karena pendidikan itu tidak mengenal diskriminasi,” terangnya.

Kunjungan kali ini diikuti 16 orang siswa-siswi yang memiliki kebutuhan khusus dalam hal pendidikan. Dari kebutuhan khusus terasebut meliputi fisik dan mental. Kebutuhan khusus mereka juga dipisah dari kebutuhan sejak lahir maupun kebutuhan akibat dampak traumatis.

Keberadaan sekolah inklusi di Desa Grudo juga mendapat perhatian dari Kementrian Desa. Tahun 2018 Wakil Menteri Desa juga menyempatkan berkunjung dan berinteraksi dengan anak didik. Bahkan untuk kelanjutan sekolah, Wakil Menteri Desa juga menjanjikan bantuan.

Sekolah Inklusi

Kemdikbud dalam artikelnya menjelaskan bahwa, sistem pendidikan paling mutakhir bagi anak dengan autisme adalah inklusi, yaitu layanan pendidikan yang menyertakan semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK, dalam proses pembelajaran yang sama. Pendidikan inklusi berbeda dengan pendidikan khusus anak berkebutuhan, di mana ABK dipisahkan dari siswa umum.

Jia Song, praktisi pendidikan inklusi dari Nonsang Naedong Elementary School, Korea Selatan, mengatakan pendidikan inklusi adalah metode pendidikan bagi ABK yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO). Di Korea, bibit pendidikan inklusi dimulai pada 1998.

“Awalnya, sebelum ada kurikulum, ABK diikutsertakan dalam kegiatan kesejahteraan pendidikan,” ungkapnya.

Joko Yuwono, praktisi dan pemerhati pendidikan inklusi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, mengatakan pendidikan inklusi sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009. Aturan itu menyatakan seluruh sekolah di provinsi ataupun kabupaten/kota wajib menyediakan pendidikan inklusi. Pendidik inklusi harus tersedia di tingkat SD, SMP, dan SMA.

“Namun, pada prakteknya, masih banyak guru yang canggung saat kedatangan ABK. Mereka masih bingung mau ngapain,” ungkapnya.

Add Comment