Potensi Bonggol Kayu Jati Melimpah, Ngawi Sentra Pengrajin Bonggol Jati

Panidi saat mengukir bonggol kayu jati (Foto: Pemdes Cangakan)

CANGAKAN, Ngawi — Kerajinan yang unik dan mempesona merupakan kesan yang tercipta dan kerajinan bonggol kayu jati. Dengan bahan baku berasal dari tonggak kayu jati yang telah tua umurnya dan termakan oleh binatang perusak kayu serta didukung oleh tekstur akar-akar yang berliukkan menjadikan tonggak kayu jati ini semakin unik.

Bonggol kayu jati oleh pengrajin diubah menjadi barang bernilai seni tinggi yang banyak diminati oleh kolektor benda antik baik dalam maupun luar negeri.

Dengan menyesuaikan bentuk tekstur kayu yang ada maka ukirlah berbagai macam bentuk flora dan fauna yang banyak terdapat di hutan  tropis nusantara.

Pasar yang telah dijangkau untuk produk bonggol kayu jati adalah kota-kota besar di pulau Jawa seperti Surabaya, Solo, Jogjakarta, Semarang, Bandung, Jakarta hingga ke pulau Bali. Sentra kerajinan bonggol jati berada dikecamatan Ngawi, Bringin, Widodaren dan Mantingan.

Pengrajin Bonggol Jati

Salah satu pengrajin bonggol jati adalah Panidi (39) yang sekaligus Ketua RT: 03, RW: 02, Dusun Cangakan I, Desa Cangakan, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.

Bonggol  jati yang semula hanya kayu limbah dari bekas tebangan yang mungkin bagi  orang lain hanya sebagai kayu bakar, namun ditangan terampil Panidi bermodal alat seadanya,  kayu limbah tersebut disulap menjadi barang ketrampilan yang mempunyai nilai seni tinggi sehingga menarik bagi para kolektor pecinta seni ukir kayu dari bahan bonggol jati.

Disela sela pulang dari berjualan buah di kios  pasar Kasreman, tangannya dengan trampilnya memainkan tatah dan ganden (palu dari kayu) memahat bonggol jati untuk dijadikan kerajinan.

Panidi mengungkapkan bahwa memperoleh bahan dari bekas galian dari wilayah Kecamatan Kasreman, sedangkan untuk saat ini  pemasaranya baru kabar dari mulut ke mulut dan menjualnya dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“ Harganya relatif dari Rp150 ribu sampai dengan jutaan tergantung dari tingkat kesulitan  saat mengerjakan dan besarnya barang,” ungkapnya.

Ia berharap agar ada campur tangan dari pihak yang berwenang baik itu berupa bantuan modal, pelatihan maupun kios atau galeri untuk memajang hasil karyanya sehingga mudah dikenal dan meningkatkan omset.