Terkikisnya Etika dan Budi Pekerti, Sebuah Catatan Ramadhan

Ilustrasi. 123RF

Kemarin, menjelang buka puasa, aku sekadar berjalan-jalan, pengin melihat suasana menjelang buka puasa (ngabuburit). Sepanjang jalan banyak yang menjajakan makanan khas Ramadhan yang hampir meruntuhkan imanku.

Banyak remaja nogkrong, di samping mereka berjajar gelas es dan makan. Batinku bilang Jancuk (kalau kata orang Surabaya). Sementara lainnya menanti buka puasa, mereka malah makan dan minum di pinggir jalan tanpa rasa malu. Wooo… cah edan arek iki (dalam batinku).

Bukan masalah puasa atau tidak puasa yang akan aku sampaikan. Bukankah itu masalah pribadi? Kalau tidak puasa, wanita yang datang bulan pun tidak puasa. Iya, enggak? Namun, hilangnya etika dan budi pekerti dalam masyarakat yang jadi bahasan. Boleh aku katakan mereka ora due isin (tidak punya malu). Bukankah pendidikan budi pekerti dan etika ini telah diajarkan oleh orang tua, lingkungan, dan sekolah?

Betapa mirisnya kondisi budi perkerti dan etika masyarakat saat ini. Kalau disandingkan dengan agama jelas sangat bertentangan. Bahkan menurut salah satu riwayat, meninggalkan puasa wajib dengan sengaja tanpa alasan yang jelas, wajib dibunuh hukumnya.

Kalau dirunut lebih dalam lagi, bagaimana sebuah keteraturan dan ketertiban bisa tercipta jika banyak aturan dan pranata sosial yang dilanggar? Selain itu, begitu tidak pedulinya masyarakat terhadap etika sosial dan budi pekerti. Kalau sudah begitu, bukankah ini yang namanya Demoralisasi Budaya?

Kalau budaya diartikan sebagai cara hidup atau kebiasaan yang biasa dilakukan masyarakat maka yang terjadi saat ini adalah proses degradasi moral dan kebudayaan. Jika terus berjalan tanpa adanya tidakan atau pembiaran dengan alasan hak asasi dan kebebasan, lantas apa bedanya manusia dengan binatang? Hidup tanpa aturan dan semaunya sendiri.

Walaupun pencerahan agama dan moral bertebaran, serta rumah ibadah di mana-mana, tapi masyarakat makin tidak tenteram. Di tingkat individu, masyarakat semakin tidak peduli dengan lingkungan.

Guru sekolah tidak berani memberikan sanksi atas pelanggaran siswa didiknya dengan alasan Hak Asasi Manusia (HAM). Sanksi sosial tidak efektif lagi memberikan rasa jera kepada pelanggarnya, bahkan cenderung ditinggalkan dengan mengedepankan hukum formal.

Justru ada trend di kalangan remaja bahwa melanggar hukum adalah sebuah kebanggaan personal atau kelompok.  Edan, enggak?

Kita sering melihat di media sosial, masyarakat membentak-bentak polisi yang notabene sebagai aparat penegak hukum.

Jadi, bagaimana kita melawan arus degradasi moral dan budaya ini? Memang pilihan kita tidak banyak, tapi bukan berarti tidak ada, kalau sepakat bahwa kita pribadi adalah bagian dari moral dan dan kebudayaan itu sendiri.

Maka kita wajib memberikan kontribusi (kemanfaatan) positif, di mana pun kita berada. Baik itu keluarga, lingkungan kerja, atau pun lingkungan masyarakat.

Kita di sekolah terbiasa dengan ‘harus unggul dari teman-teman’. Kalau kita ubah “apa yang dapat kita bantu?’ itu akan menjadi lebih humanis.

Begitu juga dalam lingkungan kita yang terbiasa berhitung untung dan rugi. Kalau seperti itu berarti kita mematerikan sebuah relasi sosial.

Kalau merunut tujuan diciptakannya manusia oleh Allah adalah untuk beribadah maka seharusnya bisa diterjemahkan bahwa semua yang dikerjakan harus bermuara kepada kemanfaatan kita buat orang lain atau masyarakat.