Jalan Meniti Jati Diri Ngawi

Kedekatan Bupati Ngawi dengan warga, saat Sambang Desa. KOMINFO NGAWI

Sabtu malam yang lalu (13/6/2020) secara tidak sengaja, saya berdiskusi dengan seseorang yang luar biasa, Budi Sulistyono Kanang. Selama dua dasawarsa, beliau mengabdikan jiwa raganya untuk masyarakat Ngawi yang ‘ramah’. Sosok kelahiran 18 Juli 1960 itu kelihatan nyentrik, mengenakan t-shirt hitam yang dibalut dengan rompi. Ia datang menggunakan sepeda motor, tak ada pengawalan atau pun ajudan.

Di luar bayangan saya, terus terang. Obrolan di Antariun Café begitu cair, layaknya obrolan ‘warung kopi’. Cerita ngalor ngidul tanpa tema, namun sarat makna. Terlihat dengan jelas, beliau mengenal dengan detail sudut dan setiap jengkal ‘Ngawi Ramah’. Bukan itu saja. Setiap penuturannya banyak filosofi dan pelajaran dalam mengelola masyarakat dan pemerintahan.

“Bahwa memimpin Ngawi itu tidak bisa serta-merta. Semua perlu memahami Ngawi secara utuh, tidak memandang Ngawi hanya berupa potongan-potongan. Dengan memahami secara utuh, akan bisa mengerti, apa yang sebenarnya dibutuhkan. Bukan sekadar keinginan dan ambisi. Ngawi butuh pemimpin yang jujur dan mengerti akan Ngawi bukan hanya orang yang pintar,” tegas ‘Mbah Kung’, sapaan akrab Bupati Ngawi ini.

Ngawi menjadi barometer Jawa Timur bukan sebuah ambisi, tapi sebuah ‘jalan meniti jati diri Ngawi’. Ngawi Ramah diharapkan menjadi magnet, pertanian, pariwisata, dan ekonomi. Memang bukan sebuah pekerjaan mudah dan sederhana, namun bukan berarti mustahil.

“Sesusah apa pun, kalau kita kerjakan perlahan dan terus-menerus pasti ada hasilnya,” tandas Mbah Kung.

Semua perlu sinergitas antara pemerintah dan masyarakat. Sinergitas dapat terbentuk, bila ada keterbukaan dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, dan begitu pun sebaliknya.

Secara kultural, Wong Ngawi termasuk daerah Mataraman yang masih kental dengan budaya dan Islam-Jawanya. Jangan heran jika Wong Ngawi masih kental dengan tradisi nyadranan, bersih desa, Keduk Beji hingga Methil (upacara petik padi).

Mbah Kung berdiskusi dengan warga. KOMINFO NGAWI

Sering kali Mbah Kung dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ‘sambang desa’ menggunakan motor untuk bertemu warga masyarakat agar aspirasi dan keluhan mereka dapat langsung dieksekusi. Dengan demikian, masyarakat mengetahui dan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan.

Di sela-sela obrolan, Mbah Kung dengan tanpa canggung menyantap nasi kucing dan Kopi Ngawi yang terkenal khas. Ketika saya singgung tentang resep mampu memimpin Ngawi selama dua dasa warsa, ia menjawab, “Itu sudah pulung (takdir).” Mbah Kung tertawa kecil.

“Saya berusaha menghilangkan sekat antara atasan dan bawahan. Sudah menjadi hal yang biasa Kepala Desa atau Perangkat Desa datang di luar jam dinas, atau bahkan malam hari. Sehingga permasalahan-permasalah yang ada di tingkat desa dapat saya ketahui dan segera disampaikan kepada OPD, sesuai bidangnya. Bukan itu saja. Banyak Kepala Desa datang dengan masalah pribadi. Ada yang bahkan masalah keluarga, masalah keuangan, dan macam-macam. Mereka menganggap saya seperti bapaknya,” begitu cerita Mbah Kung.

“Pak Kanang ya seperti itu sejak dulu. Tidak ada yang berubah. Kalau ada waktu selalu mengajak nongkrong, ngobrol ngalor ngidul. Tak jarang membantu kesulitan teman-teman dan nilainya tidak sedikit,” begitu kata Pakde Gupuh, salah satu kawan nongkrong Mbah Kung sejak SMP hingga kini mengenakan jaket bertulis Yani Gama.

Yani Gama kependekan dari Ahmad Yani Tiga Lima. Sebab, sejak remaja, apabila hari libur, Mbah Kung beserta rekan-rekan sering nongkrong di Jalan Ahmad Yani No. 35. Akhirnya, terbentuklah ikatan dengan nama, Yani Gama.

Saya melihat jam di ponsel sudah larut malam. Rasa kantuk mulai terasa. Saya pun minta pamit dari obrolan Mbah Kung dan rekan-rekan Yani Gama di sudut Antariun Café di Jalan Hasanudin itu.

Add Comment