ALAS KETONGGO IBU HUTAN TANAH JAWA

Gerbang Alas Ketonggo (Disunting dari Buku Ngawi bertutur)

Alas Ketonggo terletak 12 km arah selatan Kota Ngawi, tepatnya di Desa Babatan Kecamatan Paron. Luas Alas Ketonggo sendiri kurang lebih 4.846 m2. Alas Ketonggo merupakan salah satu alas wingit yang ada di tanah jawa. Selain Ketonggo hutan yang dianggab wingit adalah Alas Purwo Banyuwangi. Sebenarnya Alas Porwo dan Alas Ketonggo adalah pasangan. Alas Purwo disebut sebagai Bapak, sedangkan Alas Ketonggo disebut sebagai Ibu.

Menurut keyakinan masyarakat, di Alas Ketonggo ada lebih dari 10 pertapan yaitu, Palenggahan Ageng Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit dan Pesanggarahan Soekarno.

Pesangrahan Soekarno (Buku Ngawi Bertutur)

Disebut Pesanggrahan Soekarno karena diyakini sebagai tempat Bung Karno pernah meditasi disitu. Menurut Mbah Marji selaku juru kunci, ada 22 situs di Ketonggo. Situs-situs tersebut diyakini sebagai petilasan Raja Majapahit yang terakhir dalam perjalanan pengasingan diri ke Puncak Lawu. Berdasarkan penelusuran Mbah Marji terdapat berbagai situs antara lain Goa Tugu Manik, Ndaru Kilat, Blegono, Bagus, Mandro Guna, Teluk dan Sundeng. Selain itu ada Sendang Soko dan Sendang Umbul Jambe.

Alas Ketonggo begitu masyur karena banyak dihubungkan dengan kondisi kekuasaan Nusantara. Menurut kepercayaan orang jawa kondisi kekuasaan nusantara dapat dibaca dari fenomena Alas Ketonggo. Karena daya tarik spiritual inilah pada saat malam satu Muharam atau pergatian malam bulan hijriyah selalu dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah.  Sejak waktu mulai beranjak petang para pengunjung mulai berdatangan.  Mereka datang secara pribadi atau rombongan. Diliat dari kendraan yang digunakan mereka berasal dari Jogya, Solo, Semarang, Surabaya bahkan Jakarta.

Menurut penuturan pengunjung bahwa ritual di Ketonggo (kungkum) sebagai satu keharusan bagi dirinya untuk memperoleh berkah dan ketentraman pikir. “Ritual di Alas Ketonggo ini belum komplit rasanya kalau tidak kungkum. Kita berdoa minta berkah dan kesehatan kepada Maha Kuasa,” kata salah satu pengunjung asal Kota Jogja. “Disini pengunjung mempunyai berbagai permintaan untuk dikabulkan dari Yang Maha Kuasa, seperti minta kesehatan, keselamatan, kekayaan kekuasaan dan masih banyak lagi dan jangan dianggap di Alas Srigati ini melakukan hal-hal yang menyimpang,” tuturnya saat

Guwa Sido Dadi Bagus

Dari penelusuran di Kali Tempur, dari sinilah terlihat jelas ditengah pertemuan dari dua sungai pengunjung saling berendam di air sambil menyalakan hio atau sejenis dupa. Memang berdasar rumor yang ada bahwa Alas Ketonggo ini dijadikan tempat tujuan seperti meminta pesugihan, ngalap berkah, meminta agar karirnya lancar sampai orang yang dirasa memiliki sedikit kemampuan untuk menarik senjata atau barang pusaka yang diduga banyak tersebar di tempat tersebut, dan ada juga yang meminta jodoh.

“Petilasan Srigati di Alas Ketonggo dulunya sebagai tempat persinggahan Prabu Brawijaya setelah kalah perang melawan pasukanya Raden Patah dari Demak sekitar tahun 1293 Masehi”. Begitu menurut penjelasan sang Juru Kunci

(Disunting dari buku “NGAWI BERTUTUR”)