Pilkada Sebagai Pemanasan Pilkades

KursiOpini_Kita tahu bahwa Pemilu Kada Kabupaten Ngawi akan dilaksanakan tanggal 9 Desember 2020. Setelah itu pada tanggal 23 Desember 2020 Juga dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa serentak bagi Kepala Desa yang habis masa jabatanya. Pemilihan Umum sering kali dibahasakan dengan Pesta Demokrasi, ini tentu saja memberikan dampak bagi masyarakat (para pemilih).

Kalau di cermati Pilkada mendorong prilaku masyarakat berbisnis secara nyata dan semu. Secara nyata pemilu dapat menggerakkan ekonomi, sebab didalamnya diperlukan alat peraga, poster, spanduk, kaos, hiburan dan lain lain. Secara tidak langsung pemilu dengan cost yang besar dapat memutar ekonomi berbagai bidang usaha seperti yang saya katakan.

Bisnis semu dalam Pemilu. Tidak dapat dipungkiri orang yang ikut kontestasi pemilu membutuhkan biaya yang besar. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa perilaku pemilih sekarang sudah berubah. Sebagian besar pemilih menentukan pilihanya berdasarkan “Sinten Pinten” (siapa dan berapa) siapa yang dipilih berapa uang sakunya. Sehingga faktor logistik (dana) menjadi faktor yang penting dalam keberhasilan sebuah pemilu.

KPU telah menetapkan pasangan Ony–Antok menjadi calon tunggal dalam Pemilu yang akan dieksekusi oleh masyarakat ngawi pada tanggal 9 Desember 2020 nanti. Walapun tidak mengurangi nuansa kesakralan Pilkada Ngawi tanggal 9 Desember nanti, namun di beberapa desa Pemilu Kepala Daerah bisa dijadikan Warming Up (pemanasan) bagi pemilihan kepala desa yang akan digelar pada tanggal 23 Desember 2020. Sehingga ini menjadi sangat manarik untuk ditelaah baik dari segi tingkat partisipasi dan kehadiran.

Secara emosional Pemilihan Kepala Dearah bila dibanding dengan Pemilihan Kepala Desa sangat berbeda nuansa dan kepentingannya. Pemilihan Kepala Desa bukan hanya sekedar memilih siapa yang memimpin desanya 6 tahun kedepan. Namun masih banyak simpul dan alasan yang tidak bisa diterjemahkan secara tekstual yang menjadi pertimbangan Pmilih dalam memilih calon Kepala Desa. Pilihah Kepala Desa sering dijadikan ajang menunjukkan kekuasan dan pengaruh setiap tokoh masyarakat dalam lingkungannnya untuk memberikan pengaruh kepada pemilih.

Selain itu dalam pemilihan Kepala Desa juga kental dan syarat dengan nuansa “perjudian“ . Baik itu dalam menebak siapa yang jadi atau berapa perolehan masing masing calon. Yang lebih ekstrim pemilihan kepala desa terkadang juga terdapat unsur balas dendam terjadap konflik sosial yang ada.

Hujatan dan Hajatan

Sudah menjadi hal yang biasa menjelang dilaksanakan Pemilu, dalam medsos selalu ramai dengan pemberitaan yang positif yang negatif bahkan berita Hoax. Berita positif dan negatif berseliweran di medsos sehingga masyarakat susah membedakan mana berita dan mana yang “jualan”. Masyarakat harus menebak berita dalam berita itu sendiri. Pemilu sebagai hajatan politik terkadang menciptakan sebuah persoalan baru baik adanya kelompok oposisi baru atau kelompok oportunis (ngathok) yang baru dalam masyarakat. Semakin jelas kelompok mana mendukung siapa dan Siapa mendukung yang mana?

Sedangkan pemilihan kepala desa merupakan peristiwa politik yang sebenarnya di tingkat desa. Dimana dalam skala kecil bisa dijadikan potret prilaku pemilih dalam menetukan pilihanya. Dimana secara personal pribadi calon benar benar dinilai oleh masyarakat dari segi keluarga, prilakunya dalam sosial kemasyarakatan, kecerdasan, kemampuan serta yang tak kalah penting kemampuan finansial. Dalam hal menilai inilah terkadang terjadi hujatan hujatan pembullyan.

Layaknya hajatan, pemilihan kepala desa membutuhkan dana yang besar. Bila di korelasikan dengan jumlah pemilih. Biaya yang dikeluarkan seorang calon Kepala Desa untuk setiap jiwa pemilih di atas Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) hal itu masih bisa bertambah. Namun demikian magnet kekuasaan sangat seksi untuk diperebutkan. JLD

Add Comment