Hadiah Awal Tahun Dari Anak Pesantren

numaroco.or.id

Hari Jum’at aku masih di pesantren, padahal lebaran kurang delapan hari lagi. Di Kamarnya sayup-sayup terdengar mbak Risqi menyanyikan lagu Romadhon dengan suara yang sangat merdu. Banyak santri santri yang sudah pulang karena pesantren sudah libur. Banyak yang bilang kalau di pesantren itu nggak enak, tertekan, nggak bebas, kumuh dan lainnya. Kalian nggak akan bisa menilai Pesantren klo belum merasakannya sendiri. Di pesantren itu enak, banyak teman, kita dilatih mandiri dan belajar teratur. Bahkan orang pemalas kalau udah di pesantren bisa berubah, karena akan merasa malu dengan teman lainnya.

Kegiatan pesantren mengajarkan kita mandiri, teratur, belajar menerima perbedaan, bersabar untuk masa depan. Awal di pesantren banyak banget cobaan, itulah cara Allah mengangkat derajat kita, dengan memberi banyak pelajaran dan ujian. Makanya santri itu hobinya berdo’a, kapan pun, dimana pun selalu berdoa. Kita diajarkan menyerahkan semua urusan ini kepada Allah. Mungkin do’a ngak langsung dikabulkan, tergantung usaha kita juga. Isya Allah semua dimudahkan.

Contohlah Nabi Zakaria yang tak pernah lelah berdo’a. Puluhan tahun beliau berdo’a dan Alhamdulillah terkabulkan meski dari cara pandang manusia itu mustahil. Allah nggak ada yang mustahil, nothing imposible.

Susahnya di pesantren apa sih? Awal di pesantren pasti sering rindu rumah, keluarga, teman, rindu belanja dan lainnya. Kadang uang sakunya abis (sedih banget), makanya di pesantren diajarkan untuk tirakat dan hemat. Namun kita nikmati saja semua itu. Kalau sudah bisa beradaptasi dan terbiasa pasti krasan. Mungkin tirakat dan doanya itu yang pahalanya besar, heheeee…

Izha boleh cerita ya !!!
Di pesantren itu seru banget loh, saat bangun malam untuk shalat tahajjud, ada yang masih ngantuk, ada yang ngigo sendiri, ada yang pura-pura ketiduran heee (bandelnya anak pesantren). Kalau di rumah nggak bakalan serajin di pesantren, malah nggak bangun. Kebtulan Pesantrenku pesantren tahfidz jadi ada kegiatan setoran hafalan Surat.

Pas waktunya Diniyah, kita banyak dapat ilmu agama, dapet ilmu nahwu sorof, fiqih, bisa nadhoman. Lanjut, kalo pas ngaji kitab, di saat Kyai memaknai kitab dengan kecepatan 140km/jam, santri harus mengeluarkan jurus gas poll rem blong. Kadang pas lagi capek bangen cari PW (posisi wenak), tenangkan pikiran, dan pejamkan mata (curi curi tidur) hehehee. Dengar dengar Pak Kyai mampus di suruh baca. Dan gua paling suka – mungkin semua- dan paling di tunggu-tunggu, di saat melafadz kan Wallahu a’alam bisshowaab Wassalam…

Jiwaku senang, mukaku datar. #Saatnya tidur

# pleace do’a kan aku
# agar kembali normal
# banyak hastag lu

Cerita ini di suntin dari buku harian
anak pesantren sebut saja namanya ILzha di Jogorogo

Add Comment