Nasi Basi dari Surga

Santri
Santri mengikuti kajian buka puasa. YUDY WARIH SUKA

Angin bertiup semilir selepas salat asar menjelang waktu buka puasa. Iringan motor kami melaju santai menuju Ponpes Tarbiyatul Qur’an, Rowokembu, Wonipringgo, Pekalongan, untuk mengikuti acara buka puasa bersama.

Sengaja kupacu sepeda motor matic-ku perlahan-lahan agar bisa kunikmati suasana jalan Pekalongan di sore hari. Pekalongan, tempatku dibesarkan, hanya saja aku menempuh kuliah di Solo sambil mondok di pesantren

Di belakangku, duduk Mas Taufik yang baru kelas tiga madrasah, membonceng sambil tengak-tengok mengamati jalan yang ramai. Di kanan dan kiri jalan, banyak pedagang takjil yang dikerumuni pembeli. Sesekali dia bercerita tentang perbedaan antara Kota Pekalongan dan Kota Pati, tempat dia aku pondokkan.

Kok diam, Mas? Kenapa? Ada yang perlu ditanyakan?” tanyaku.

Biasanya, kalau di ajak jalan-jalan, Mas Taufik ini selalu ceriwis bertanya atau cerita sana-sini.

“Mmm… Umi, memang ada, ya, nasi basi dari surga itu rasanya seperti apa, ya?”

Spontan aku tertawa mendengar pertanyaan anehnya.

“Dari mana kamu dapat pertanyaan seperti itu, Sayangku?” tanyaku sambil kubelai tangan mungilnya yang melingkar erat di pinggangku.

“Dulu kiaiku pernah makan nasi basi dari surga sewaktu beliau masih kecil?” jawabnya.

Dalam pikiranku, ini pernyataan yang syarat makna untuk anak sekecil dan sepolos dia. Selama ini, anakku tidak pernah menyampaikan suatu berita yang neko-neko ataupun hoaks. Pertanyaan yang baru saja ia ajukan itu memerlukan jawaban bijaksana nan tepat.

“Oke, Sayang. Kita lanjut cerita kita ini kalau sudah sampai tujuan, ya,” kataku kemudian.

Ia mengangguk dengan penuh penasaran akan jawaban kuberi nanti.

Beberapa menit kemudian, kami tiba ditempat tujuan. Kami disambut dengan hangat laksana keluarga yang baru pulang dari perantauan. Tampak wajah cerah Kiai dan Bu Nyai ketika mempersilakan kami duduk, berbincang-bincang tentang keluarga dan lain sebagainya, penuh support terhadap anak-anakku.

Terkadang, kami pun tidak mengerti mengapa di antara sekian tamu diperlakukan seperti ini, layaknya sebuah keluarga. Kiai tampak senang melihat semua anak-anakku ikut hadir dalam undangan beliau.

Suara azan menggema. Para santri Ponpes Tarbiyatul Qur’an mulai sibuk melayani tamu dengan penuh hikmat, mempersilakan tamu menuju hidangan yang telah disediakan.

Di sela-sela kami menikmati makanan buka puasa, kembali kubuka ceritaku dengan Mas Taufik.

“Mas, tentang pertanyaan tadi, bolehkah Umi mendengar bagaimana kamu bisa memunculkan pertanyaan itu?” tanyaku memulai.

“Ayo ceritakan, Sayang,” lanjutku.

Sambil tersenyum, Mas Taufik mulai bercerita.

“Itu, Umi… kiaiku dalam ceramahnya. Kiai menceritakan, kala itu tidak ada nasi untuk dimakan, hanya ada nasi basi dari surga,” selorohnya.

Ceritanya pun mulai mengalir. Menyimak ceritanya, tak terasa air mataku tak dapat terbendung lagi. Rupanya, dia telah mencerna apa yang kiainya sampaikan. Perjuangan hidup Sang Kiai sebagai anak yatim piatu yang penuh sarat makna, yang serba kekurangan. Bekerja sebagai pengupas singkong di pabrik tepung, menabung dari hasil kerja untuk membeli kitab. Mengayuh sepeda onthel (sepeda angin) kemana pun beliau pergi. Hidup dengan segala kekurangan dan keprihatinan.

Hingga suatu saat, kabar gembira datang. Rupanya, munajat dan cita-cita beliau dikabulkan oleh Allah. Beliau mendapat beasiswa ke Madinah Al-Mukaromah untuk menuntut ilmu, memperdalam pengetahuan tentang agama Islam.

“Sayangku, Taufik,” kupeluk erat dan kukecup keningnya.

Sambil kutatap matanya, aku berkata dengan nada yang nyaris habis karena sesak oleh tangis, “Patuhilah kyaimu dan gurumu, Mas Taufik. Mematuhi mereka adalah jalan menuju surga. Nasi basi dari surga itu hanya ada untuk orang seperti Kiai. Jadi, teladanilah mereka.”

“Kenapa Umi menangis?” tanya Taufik.

Aku hanya bisa memeluknya dengan erat tanpa bisa berkata lagi. Dalam batinku, aku hanya memohon kepada Allah. Ya Allah, semoga anak-anakku akan mempermudah hisabku kelak untuk menghadapMu.

One thought on “Nasi Basi dari Surga

Add Comment